METODE PENETAPAN AWAL DAN AKHIR RAMADHAN

( Pendalaman Materi Diklat Hidsab-Rukyat Balai Diklat Keagamaan Semarang)
Oleh : Drs.H.Zaenuri, M.Ag

يَااَيُّهَاالَّذِيْنَ امَنُوْاكُتِبَ عَلًَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَاكُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ ﴿البقرة: ﴾
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”. )QS. Al-Baqarah: 183)
Berdasarkan Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 04/MLM/I.0/E/2013 tentang Penetapan hasil Hisab Ramadhan, Syawal dan Zulhijjah 1434 H, bahwa 1 Ramadhan 1434 H jatuh pada hari Selasa Wage, 9 Juli 203 M, 1 Syawal 1434 H jatuh pada hari Kamis Wage 8 Agustus 2013 M dan 1 Zulhijjah 1434 H jatuh pada hari Ahad Pon 6 Oktober 2013 H. Dengan maklumat itu sebagaian umat Islam di Indonesia akan mengalami perbedaan mulai puasa Ramadhan.

EVALUASI PELAYANAN KEPENGHULUAN PADA KANTOR URUSAN AGAMA KECAMATN BANYUMANIK KOTA SEMARANG

Oleh :
Drs. H. Zaenuri, M.Ag

Abstrak
Sebagaimana yang telah diamanatkan dalam UU No 22 tahun 1946 dan UU No 32 tahun 1954 tentang pencatatan nikah , talak, cerai dan rujuk, juga berasarkan UU No 1 tahun 1974 tentang perkawinan. Tugas pokok Kementerian Agama yaitu menyelenggarakan sebagaian tugas pemeraintahan di bidang keagamaan, diantara tugasnya berupa pelayanan pencatatan nikah dan rujuk seperti dalam pelaksanaan tugas tersebut telah ditetapkan adanya Pegawai Pencatat Nikah (PPN) yang sering disebut dengan nama “Penghulu”.
Pemerintah telah merealisasi jabatan fungsional penghulu berdasarkan Permenpan No. 42 tahun 2004 dan diperbaruhi dengan Permenpan No. 62 tahun 2005 tentang Jabatan Fungsional Penghulu dan Angka Kreditnya. Kemudian ditindaklanjuti dengan Surat Keputusan Bersama Menteri Agama dan Badan Kepegawaian Negara (BKN)No. 20 dan No 14A tahun 2005 tentang Petunjuk Pelaksanaan Jabatan Fungsional penghulu dan Angka Kreditnya.
Selain itu instansi KUA Kec, Banyumanik dan seluruh Indonesia masih harus melaksanakan tugas yang lain, baik dalam internal sektor seperti haji, zakat, wakaf, MTQ, PHBI dsb, sehingga tidak sebanding dengantersedianya tenaga dan fasilitas kerja di KUA.
Dalam pelayanan kepenghuluan pada umumnya dalam berjalan dengan lancer dan baik, namun ada kendalam dalam transportasi di sebagai daerah di Kelurahan tertentu yang masih sulit terjangkau dengan kendaraan terutama pada musil penghujan, karena daerah tersebut terletak pada perbukitan.
Sedangkan pelanggaran pelaksanaan pernikahan yang tidak melalui KUA masih ada di sebagian masyarakat, seperti nikah siri dan hidup bersama tanpa nikah. Sikap yang dilakukan oleh aparat KUA anatara lain memberikan motivasi untuk melakukan peraturan yang berlaku sebagai warga Negara Indonesia yang baik.
Kata kunci : Evaluasi, pelayanan, kepenghuluan dan solusi.

HALAQAH ULAMA “PENGUATAN PENDIDIKAN AGAMA DAN KEAGAMAAN BAGI KURIKULUM PENDIDIKAN NASIONAL 2013″

Hari/Tanggal : Sabtu, 30 Maret 2013
Waktu : 08.00 WIB s/d Selesai
Tempat : Auditorium I Kampus I IAIN Walisongo
Jl. Walisongo 3 – 5 Semarang

PENELITIAN STUDI KASUS ARAH KIBLAT MASJID DI KABUPATEN DEMAK

Oleh : Drs. H. Zaenuri, M.Ag.*

Abtraks

Qibla Direction is one legitimate requirement in the implementation of Prayer, therefore, in aspects of Islamic law kiblay direction of truth is an absolute necessity, because it can affect his starting prayer accepted or not a person. With the development of science and technology should be utilized to guide people in performing worship. Therefore the author wants to do research on case study research Qibla direction mosque in Demak regency. The problem faced in the research, among others, the difficulty of convincing scientific knowledge to the Muslims in part, because of the culture and beliefs are still limited in understanding the science of fiqh. Part of Muslims consider improvements Qibla direction by changing the shape of the building of the mosque. Though the mosque is also calculated and is based by using gauge and compass at the time of establishing mosques in the village.To align the correct Qibla direction can be reached with the calculations based on astronomy and using support tools, and then in the mosque simply by inserting a line as a signal line of the prayer. In this way will be easier and practically without any change to the building of the mosque. In determining the Qibla direction is achieved target mosques with Qibla direction to the House or the Kaaba, if not possible can Kea ran the mosque of al-haram, if still not possible to believe leads to the city of Makkah. But it would be good and right when calculated through science and technology, how to determine the direction of Qibla every mosque. Thus every jama’ah prayer becomes steady and sure of the truth Qibla direction that became legal conditions the implementation of Prayer.

Keywords: Facing the Qiblah became legal conditions of implementation of the prayers.

MELESTARIKAN OTENTISITAS AL-QUR’AN

(Materi Program Inti Diklat Calon Penyuluh Agama Islam dalam Mata diklat Dasar-dasar Ilmu Al-Qur’an)

Oleh : Drs.H.Zaenuri, M.Ag

Pendahuluan.
A. Latar belakang
Secanggih apapun perkembangan ilmu pengethuan dan teknologi (Iptek) sehingga merubah dalam peradaban kehidupan manusia, eksistensi Al-Qur’an tetap relevan dan menjadi kunci jawaban terhadap tantangan perkembangan iptek dan peradaban kehidupan manusia di negara manapun. Karena Al-Qur’an itu firman Allah sebagai sumber berbagai ilmu yang sangat luas, bahkan tidak akan habis bila ditulis sekalipun air laut sebagai tintanya. (Al-Kahfi: 108). Sedangkan ilmu-ilmu Allah dalam Al-Qur’an yang baru diketahui manusia baru sebagaian kecil saja (illa qalila). (Al-Isra’: 85).
Al-Qur’an sejak awalnya mendapatkan tantangan dari orang-orang yang tidak beriman, seperti anggapan bahwa Al-Qur’an hasil cerita bohong yang dibuat Nabi Muhammad SAW, adanya ayat-ayat palsu dari para nabi palsu misalnya Muasilimah al-kazzab dan kawan-kawan. Dalam setiap pereodesasi kehidupan manusiapun Al-Qur’an selalu dihadapkan beberapa tantangan adanya pemalsuan ayat Al-Qur’an, sehingga sering ditemukan kesalahan dalam penulisan atau penerbitan Al-Qur’an.
Oleh karena itu untuk melestarikan otentisitas Al-Qur’an, Pemerintah atau Kementerian Agama dan umat Islam selalu berusaha secara maksimal melalui penghafalan Al-Qur’an pada lembaga pendidikan, Pondok pesantren dan Pendidikan Tinggi Ilmu Al-Qur’an. Selain itu penerbitan Al-Qur’an baik melalui media cetak maupun internet juga semakin meningkat dalam kualitas dan kuantitasnya. Demikian juga pada Diklat calon penyuluh agama Islam juga diberikan materi Dasar-dasar Ilmu Al-Qur’an sebagai modal dalam penyuluhan agama Islam di masyarakat.
B. Pemeliharaan Al-Qur’an
Al-Qur’an merupakan mukjizat yang terbesar yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW yang ditulis dalam mushaf yang diriwayatkan secara mutawatir dan dapat dirasakan kemanfaatannya oleh umat Islam secara langsung hingga akhir jaman karena dipandang sebagai ibadah bagi yang membacanya. Untuk itu Al-Qur’an sebagai sumber petunjuk bagi orang Islam (hudan lilmuttaqin) dan juga bagi semua manusia (hudan linnas).
Apa bila diperhatikan, semakin modern perkembangan dunia ilmu pengetahuan dan kehidupan manusia membuat semakin mudah manusia menemukan dan memahami Al-Qur’an. Teks Al-Qur’an mudah didapatkan baik melalui cetak maupun mengunduh (download) dari internet, begitu juga bacaan Al-Qur’an (qira’atil qur’an) bisa diperoleh dari sumber manusia yang tergabung dalam organisasi pembaca dan penghafal Al-Qur’an (Jam’iyyatul qurra’ wal khuffadh). Selain itu juga dapat diperoleh melalui berbagai macam perangkat lunak dan keras (software and hardware) seperti caset, CD MP3, flashdisk dan internet.
Sebenarnya telah diyakini bahwa pemeliharaan Al-Qur’an merupakan kehendak Allah yang dilestarikan keutuhan Al-Qur’an secara murni dan mutlak keasliannya. Hal ini tetap menghargai keterlibatan Malaikat, Nabi Muhammad, dan umat Islam untuk mengamankan dan memahami serta mengaktualisasikan semua ajaran dalam Al-Qur’an. Pemeliharaan Al-Qur’an tidak sekedar melaui penjagaan lewat lisan dan otak seperti dibaca dan dihafal umat Islam, tetapi juga semakin canggih penulisan Al-Qur’an melalui tangan-tangan terampil ahli kaligrafi dan komputerisasi Al-Qur’an.
Pemeliharaan Al-Qur’an tentu tidak semudah yang direncanakan, terjadi kontroversi tentang kelengkapan dan metode penulisan dari kalangan para ahlipun selalu menghiasinya. Keberadaan Al-Qur’an sebagai kitab suci sekaligus mukjiyat Nabi Muhammad SAW yang selalu menjadi kajian yang terkait dengan masalah keotentikan Al-Qur’an yaitu sebagai firman Allah yang diturunkan kepada Nabi muhammad SAW yang selalu terjamin dari perubahan, kerusakan dan kemusnahan, inilah keunggulan Al-Qur’an dibanding dengan kitab-kitab agama selain Islam. Mengapa demikian, karena salah satu perbedaan antara Al-Qur’an dengan kitab-kitab agama samawi sebelumnya, bahwa Allah SWT menjamin dan memelihara secara langsung keotentikan Al-Qur’an, sementara kita-kitab samawi lainnya tidak dijamin pemeliharaanya oleh Allah secara langsung, tetapi diserahkan kepada umat yang bersangkutan, maka tidak heran jika kitab-kitab yang lain mengalami reduksi dan manipulasioleh tangan pemuka agama mereka sendiri. (Muhammad Amin Abu BakarMa’wadh, 1991:56)
Sebagai bukti Allah memelihara Al-Qur’an sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al-Hijr : 9
  •     
“ Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”(QS.Al-Hjr:9)
Pembuktian keterpeliharaan Al-Qur’an menjadi suatu hal yang sangat menarik , karena eksistensi bentuk Al-Qur’an sepanjang masa dapat diterima manusia. Sejak awal Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi muhammad SAW, masa pengumpulannya, masa kodifikasinya menjadi mushaf menjadi nilai historis yang sangat menarik untuk dikaji. Oleh karena itu ayat di atas memberikan jaminan tentang kesucian dan kemurnian Al-Qur’an selama-lamanya. Meskipun demikian pada masa awal mulanya turunnya Al-Qur’an telah beredar berbagai fitnah dari orang-orang kafir bahwa Al-Qur’an merpakan bagian dari usaha rekayasa otak Nabi muhammad SAW. Seperti anggapan mereka bahwa Nabi muhammad SAW telah berguru kepada pendeta Buhaira. Dalam sejarah juga dijelaskan bahwa kepastian Nabi muhammad SAW pergi ke Syam hanya dua kali. Pertama, ketika beliau masih kecil berumur 10 tahun pergi bersma pamannya bernama Abi Thalib. Kedua, pada waktu beliau usia remaja bersama Maisaroh, salah satu pembantu Khadijah dan tidak ada keterangan yang mengatakan dalam perjalanannya bertemu dengan seorang pendeta. (Muhammad Amin Abu BakarMa’wadh, 1991:421).
Bila berbicara keabadian Al-Qur’an, menurut Az-Zarqani bahwa Al-Qur’an akan berlaku pada setiap masa, karena kandungan Al-Qur’an memuat kaidah-kaidah dan hukum yang tidak berubah oleh perkembangan waktu dan tempat. Kelengkapannya mengakomudir semua lapisan manusia dengan hukum yang bersifat universal (Kuliyyah). (Mustofa Abu Dhaif Ahmad, 1983: 81) Sedangkan fungsi Al-Qur’an sebagai petunjuk telah membuktikan kebenaran bagi umat Islam yang mendapatkan petunjuk (hidayah), dalam hal in Ar-Zarqani memberikan contoh dalam waktu 23 tahun bangsa Arab menjadi bangsa yang dihormati dan dimulai penduduk dunia karena selalu berpegang pada prinsip-prinsip dalam Al-Qur’an. (Muhammad Abdul “Adhim Az-Zarqani 1995: 36)
C. Hafalan dan Rekaman Al-Qur’an
Pada jaman Rasulullah masih hidup para sahabat sangat bersemangat untuk menghafal Al-Qur’an dengan cara ayat demi ayat setiap ada wahyu yang turun kepada Nabi muhammad SAW. Bagi para sahabat membaca dan menghafal Al-Qur’an merupakan kegiatan yang menyenagkan, sehingga mereka menunggu bila belum ada wahyu yang turun. Dengan perhatian dan mencurahkan pikiran dan tenaga untuk menguasai dan menghafal Al-Qur’an. Bahkan mereka berlomba-lomba menghafalkan dan mengkaji Al-Qur’an, karena diantara mereka berasal dari daerah atau suku yang berbeda-beda. Karena perhatiannya dengan kepandaian mengahafal Al-Qur’an sampai ada wanita yang rela dinikahi dengan mahar sebuah surat yang diajarkan oleh suaminya untuk istrinya.(Ibnu Hajar Al-Asqollani, t.th: 415)
Sebagaimana yang dialami para sahabat, Nabi Muhammad SAW juga bersemangat untuk menghafal Al-Qur’an, setiap hari selalu membaca Al-Qur’an untuk dihafal.Namun Nabi Muhammad SAW juga khawatir bila dalam hafalan Al-Qur’an ada kesalahan atau lupa dalam ingatan sehingga menjadi hilang ayat-ayat Al-Qur’an, terutama pada suatu ketika akibat kematian para pengahafal Al-Qur’an dalam peperangan di masa Nabi Muhammad SAW. Untuk menghilangkan kekhawatiran dan kerisauan Nabi Muhammad SAW, maka Allah SWT memberikan jawaban berupa wahyu untuk menjamin keutuhan dan kemurnian Al-Qur’an, sebagaimana firman Allah SWT:
•       •    •   
“Sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya Maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian, Sesungguhnya atas tanggungan kamilah penjelasannya.” (QS. Al-Qiyamah :17-19)

Dalam kehati-hatian Rasulullah membaca Al-Qur’an belau setiap hari membaca Al-Qur’an dengan berlahan dan berulang-ulang sambil menghayati isi kandungan setiap ayat sehingga menjadi hafal betul dalam otak dan hati sanubari. Kemudian Rasulullah mengajarkan kepada para sahabat dan menyuruh mereka untuk menghafal Al-Qur’an dengan perlahan-lahan, dan Allah SWT memberikan kemudahan menguasai hafalan dan memahaminya. Hal ini dijelaskan dalam firman Allah SWT surat Al-Qamar: 17
       
“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, Maka Adakah orang yang mengambil pelajaran?”
Dalam memelihara hafalan Al-Qur’an Nabi Muhammad SAW secara konstan kemudian malaikat Jibril AS selalu mengunjunginya, kejadian ini dapat diteliti dalam hadis-hadis berikut :
1. Fatimah berkata: Nabi Muhammad SAW memberitahukan kepadaku secara rahasia bahwa Malaikat Jibril datang membacakan Al-Qur’an padaku dan saya membacakannya sekali setahun. Hanya tahun ini ia membacakan seluruh isi kandungan Al-Qur’an selama dua kali. Saya tidak berpikir lain kecuali, rasanya,saat kematian sudah semakin dekat”. (Al-Bukhari, Sahih, t.th: 55)
2. Ibnu Abbas melaporkan bahwa Nabi Muhammad SAW berjumpa dengan malaikat Jibril AS setiap malam selama bulan Ramadhan hinggga akhir bulan, masing-masing membaca Al-Qur’an secara bergantian. (Al-Bukhari, Sahih, t.th:56)
3. Abu Hurarairah berkata bahwa Nabi Muhammad SAW dan Malaikat Jibril membaca Al-Qur’an bergantian tiap tahun , hanya pada tahun kematiannya mereka membaca bergantian dua kali. (Al-Bukhari, Sahih, t.th:55)
4. Ibnu Mas’ud melaporkan hal yang sama seperti diatas, dengan tambahan, “Manakala Nabi Muhammad SAW dan Malaikat Jibril AS selesai membacanya, kemudian memberi giliran saya membaca untuk Nabi Muhammad SAW dan beliau member penghargaan akan keindahan bacaan saya.(At-Tabari, At-Tafsir, t.th: 128)
Nabi Muhammad SAW, Zaid bin Sabit dan Ubay bin Ka’ab membaca secara bergiliran setelah sesi terakhir dengan Malaikat Jibril.
Untuk mengantisipasi kekeliruan para sahabat dalam menghafal Al-Qur’an, Nabi Muhammad SAW sendiri yang mengevaluasi hafalan para sahabatnya. Setiap para sahabat sudah menghafal satu ayat mereka menghadap Nabi Muhammad SAW untuk menghafalnya dan Nabi Muhammad SAW membetulkan bacaan dan hafalan mereka. Kemudia para sahabat mengulangi hafalannya di hadapan Nabi Muhammad SAW sampai hafal dengan bacaan yang benar. Setelah itu para sahabat bertanya kepada Nabi Muhammad SAW “Apakah kami telah menghafal seperti bacaan ayat yang diturunkan semula?” Maka para sahabat akan berhenti setelah Nabi Muhammad SAW membenarkan bacaan mereka itu, bila para sahabat ada perbedaan bacaan, mereka segera menghadap Nabi Muhammad SAW untuk dibenarkan dan klarifikasi. (Jamal Mustofa An-Najjar, 2004: 26)
Sehubungan dangn perkembangan teknik informasi dan komunikasi telah lama diusahakan rekaman Al-Qur’an melalui peringan hitang, kaset, CD, MP3 dan bentuk software yang bisa diambil dari internet.

D. Para Penghafal Al-Qur’an
Sesudah Nabi Muhammad SAW wafat, para sahabat secara aklamasi memilih Abu Bakar as-shidiq sebagai khalifah yang pertama. Mengapa demikian? Karena Abu Bakar As-shidiq sering ditunjuk Nabi Muhammad SAW untuk menjadi imam salat setiap Nabi Muhammad SAW ada halangan uzur sakit. Pada waktu awal kekhalifahan Abu Bakar, bagi umat Islam yang masih lemah imannya sebagaian keluar dari Islam (murtad) karena banyak desakan dan penyiksaan dari orang kafir Qurays . Saat itu juga ada gerakan menolak mengeluarkan zakat yang dipimpin oleh nabi palsu yaitu Musailimah al-kazzab. Akhirnya kerakan tersebut disikapi oleh Abu Bakar tegas. (Mustofa Abu Dhaif Ahmad, 1983: 143)
Sikap ketegasan Abu Bakar As-Shidiq dengan cara memerangi pembangkang zakat, ia menyiapkan 4000 orang dengan naik kuda di bawah komandan Khalid bin Walid, terjadilah kontak senjata dan meletus perang di Yamamah, yang terkenal dengan perang Yamamah yang terjadi pada 12 hijriyah. Dalam perang Yamamah telah wafat sebagai korban 70 orang penghafal Al-Qur’an. Pada masa Nabi Muhammad SAW juga pernah terjadi perang di suatu tempat bernama “Bi’ri Maunah” dekat dengan Madinah juga telah wafat sebagai suhada’ sebanyak 70 orang pehafal Al-Qur’an.
Dengan banyaknya penghafal Al-Qur’an yang gugur sebagai syuhada’, timbul kecemasan pada hati Umar bin Khattab RA untuk mendorong dan menyarankan kepada Abu Bakar As-Shidiq segera mengusahakan penghimpunan ayat-ayat Al-Qur’an menjadi satu mushaf , karena Al-Qur’an bisa hilang dengan gugurnya para sahabat penghafal Al-Qur’an. Setelah melelui ratat, gagasan penghimpunan Al-Qur’an disetujui dan Abu Bakar As-Shidiq memerintahkan Zaid bin Sabit untuk menghimpun ayat-ayat Al-Qur’an. (Abdul Hay Husain Al-Qur’an-Farmawi, 1997:52)
Sebenarnya para sahabat yang hafal Al-Qur’an jumlahnya ada raturan orang, diantara mereka yang terkenal mengajarkan Al-Qur’an ada tujuh, yaitu Usman, Ali, Ubay, Abu Bakar As-Shidiq Darda’, Zaid bin Sabit, Abdullah bin Mas’ud dan Abu Bakar As-Shidiq Musa Al-Qur’an-Asy’ary, mereka itu yang menghafal Al-Qur’an dengan lengkap. (Muhammad Abdul Adhim Al-Qur’an-Zarqani :243)
Selama proses penghimpunan ayat-ayat Al-Qur’an ini dilakukan dengan cara berhati-hati karena ia sendiri juga hafal Al-Qur’an, ia tetap berpegang kepada dua hal, yaitu :
1. Ayat-ayat Al-Qur’an yang benar-benar ditulis dihadapan Nabi Muhammad SAW dan disipman dirumah beliau.
2. Ayat-ayat Al-Qur’an yang telah dihafal para sahabat dihadapan Nabi Muhammad SAW. (Abdul Hay Husain Al-Qur’an-Farmawi, 1997:54)
Dalam melaksanakan tugas penghimpunan Al-Qur’an Zaid bin Sabit dibantu oleh beberapa sahabat yang juga hafal Al-Qur’an yaitu Ubay bin Ka’ab, Ali bin Abi Thalib dan Usman bin Affan. Ada dua hal yang mempengaruhi termotivasisa pengumpulan Al-Qur’an, Pertama, sebagai respon atas semakin krisisnya penghafal Al-Qur’an akibat gugur dalam peperangan. Kedua, program penghimpunan Al-Qur’an dianggap langkah yang sangat berani karena tidak pernah mendapatkan perintah yang jelas dari Nabi Muhammad SAW . ( Labib as-Sa’id, 1976:21).
Pada jaman sekarang Al-Qur’an semakin banyak dihafalkan oleh para santri di beberapa Pondok Pesantren Tahfidhul-qur’an baik di Jawa maupun luar Jawa. Dalam meningkatkan melestarikan otentisitas al-qur’an pemerintah berasama umat Islam melaksanakan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) tiga tahun sekali dan Seleksi Tilawatil Qur’an (STQ) setiap tahun mulai dari tingkat kecamatan, Kabupatern/Kota, Propensi, Nasional dan Internasional. Diantaranya sebagai juara terbaik adalah: 1) Rahmawati Hunawa (23 tahun) sebagai juara terbaik pada Seleksi Tilawatil Quran (STQ) dan Musabaqoh Tilawatil Quran (MTQ) tingkat Provinsi Sulut dan nasional pada tahun 2010.2) Qori Indonesia Deden Muhammad Makhyaruddin berhasil meraih juara satu kategori bergengsi lomba hafalan Quran 30 juz dan tafsirnya pada Musabaqah Tahfiz, Tajwid, dan Tafsir Al-Quran (MTQ) Internasional di Kairo. 3) Duratul Muqaffa (12 Th) juara terbaik I Golongan anak-anak pada MTQ Nasional di Banjarmasin tahun 2011. 4) Salim Ghazali juara terbaik I Tahfid Alquran pada MTQ inter nasional pada tanggal 12 Sesember 2011 Di Iran dan 4) Ade Setiawan, SS, MA Juara II kaligrafi pada Peraduan Khat ASEAN di Brunei Darussalam tahun 2006. (http//www.lptq Pusat.com, 23-2-2012).
Dari hasil MTQ sebenarnya hanya sebagaian kecil dari jumlah orang yang telah hafal. Karena sebakin bertambang banyak pondok pesantren yang khusu mempelajari hafalan Al-Qur’an dan setiap tahun telah memwisuda para penghafal Al-Qur’an.
E. Ragam Qira’at dan Mushaf
Sebenarnya bacaan (qira’at) Al-Qur’an ada beberapa fersi/ ragam disebabkan adanya perbedaan dialek (lahjah) orang-orang arab, sehingga pada tahun 200 H terdapat para ahli qira’at yang tidak dapat dihitung. Adapun para ahli qira’at yang terkenal (masyhur) tujuh bacaan (qira’ah sab’ah) adalah :
No Nama Qari/Imam Tempat/Tahun Perawi
1 Abdullah bin Amir Syam, 118 H Al-Qur’an-Bazza Abdul Hasan Hamid bin Muhammad dan Qunbul Abu Bakar As-Shidiq Umar Muhammad
2 Abu Ma’had Abdullah bin Kasir Mekkah, 120 H Abu Bakar Syu’bah bin Ilyas dan Abu ‘Amir Hafas bin Sulaiman
3 Abu Bakar ‘Ashim bin Abi An-Nujud (yang dipakai di Indonesia) Kuffah, 127 H Abu Bakar Syu’bah bin Ilyas dan Abu ‘Amir Hafas bin Sulaiman.
4 Abu ‘Amr bin Al-‘Ala Bashrah, 154 H Ad-Darawi,Abu ‘Amr Hafas dan As-Susi Abu Bakar As-Shidiq Syaib Shahel bin Zihad.
5 Nafi’ bin Ni’am Madinah, 109 H Qalun Abu Musa ‘Isa bin Mina dan Warsy Abu Syaid Usman bin Sa’id
6 Abdul Hasan ‘Ali Bin Hamzah Al-Kasai Bashrah, 189 H Abdul Haris Al-Kais bin Khalid dan Ad-Darawi
7 Abu Imrah Hamzah bin Habib Kuffah, 216 H Abu Muhammad Khalaf bin Hisyam dan Abu ‘Isda Khalad bin Khalid. (Yunus Hanis Syam, 2009:21)
Pada Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) yang dilaksanakan setiap tiga tahun sekali dan Seleksi Tilawatil Qur’an (STQ) dua tahun sekali merupakan langkah secara nasional juga untuk melestarikan Al-Qur’an, karena melalui beberapa cabang MTQ itu membuktikan berbagai aspek tentang Al-Qur’an yang perlu diketahui oleh umat Islam dan umat yang lain. Misalnya cabang tilawah, murattal,tahfid,tafsir, syarah, khat/kaligrafi dan qira’ah sab’ah. Salah satu cabang MTQ adalah khat/Kaligrafi Al-Qur’an akan menambah koleksi pada museum Al-Qur’an di Bait Al-Qur’an Taman Mini Indonesia Indah Jakarta, antara lain :
1. Mushaf Ibu Tin Suharto, spesifikasinya:
Stilisasi Kaligrafi : Naskhi (utk naskah utama) ,Tsulutsi (utk judul surah, dll)
Ukuraan Manuskrip : 70 x 100 Cm (hand made), Gold Leaf (emas Murni 24 Karat)
Gaya Iluminasi : Ragam Hias Batik & Ragam Etnik
Thn penulisan : 1997-1999
Pemrakarsa : Presiden RI Ke-2 H.M. Soeharto
Lokasi : Musium Islamic Center Jakarta & Musium Bayt Qur’an Taman Mini Indonesia Indah, & (Yayasan Keluarga Cendana)

2. Mushaf Propinsi Palembang, spesifikasinya:
Stylisasi Kaligrafi : Naskhi
Ide Dasar Ragam Hias : Palembang
Ukuran Manuskrip : 100Cm x70 Cm
Media : Conqueror laid letter 220 Grm
Kepemilikan : Kel. Abi Hasan Said (Palembang)

3. Format 15 baris

Melestarikan otentisitas al-qur’an secara tekstual dapat melalui pembelaran Al-Qur’an (ta’limul-qur’an) dalam aspek murattal (tartilil-qur’an), qira’ah (tilawatil-qur’an) hafalan (tahfidh), pemahaman Al-Qur’an (fahmil-qur’an), penafsiran Al-Qur’an (tasfiril-qur’an), Kaligrafi hiasan mushaf, dekorasi dan penulisan naskah (khathil-qur’an) serta bacaan tujuh fersi imam qira’at (qira’ah sab’ah).
(Penulis adalah WI Madya Balai Diklat Keagamaan Semarang)

Daftar Pustaka :

Al-Bukhari, Sahih, t.th, Fadhail Al-Qur’an , 7, MM AlA’zami
Al-Bukhari, Sahih, t.th, Saum, 7, MM AlA’zami
At-Tabari, At-Tafsir, t.th: sanadnya dengan lemah, dalam MM Al-Qur’an-A’zami.
At-Tabari, At-Tafsir, t.th: sanadnya dengan lemah, dalam MM Al-Qur’an-A’zami
Ibnu Hajar Al-Asqollani,t,th, Fathul Bari Syarah Shahih Al-Qur’an Bukhari, Bab At-tazwij ‘ala Al-Qur’an wa bigairi shadaq, Al-Maktabah Syamilah.
Jamal Mustofa An-Najjar, 2004, Al-Ihsan fi Ulumil qur’an, Cet I, Mesir: Dar at-Tiba’ah Al-Muhammadiyah.
Hanis Syam, Yunus, 2009,Mukjizat Membaca Al-Qur’an, Yogyakarta: Pen. Mutiara Media.
Muhammad Amin Abu BakarMa’wadh, 1991, Mawahib Ar-Rahman fi Ulumil-qur’an, Kairo: Dar al-Kutub Al-Qur’an-Mishriyah.
Mustofa Abu Dhaif Ahmad, 1983, Dirasah fi tarikh al-‘arab, Iskandariyah (Mesir): Muasasah Syab Al-Jam’iyah.
Mustofa Abu Dhaif Ahmad, 1983, Dirasah fi tarikhil Arab, Iskandariyah: Muassah Syahab Jamiyah.
Labib as-Sa’id, 1976, The Recited Koran (The Darwin Press, New Jersey)
Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ), 2010, Prop Jawa Tengah, Kanwil Kementerian Agama Propinsi Jawa Tengah.
(http//www.lptq Pusat.com, 23-2-2012).

| Designed oleh: sarx_rockajaya | admin@muijateng.com, RapidShare Search and Internet TV