MEMAHAMI PERBEDAAN PENENTUAN AWAL BULAN RAMADHAN

(Pendalaman materi Diklat Hisab Ru’yat)
Oleh: Drs. H. Zaenuri, Mag *)
Pendahuluan.
A. Latar belakang.
Seluruh Ulama’ telah sepakat bahwa jumlah bulam dalam tahun Qamariyah ada 12 bulan hal ini berdasarkan surat al-Taubah: 26, begitu pula jumlah hari dalam bulan Qamariyah ada 29 dan 30 hari, demikian juga apabila pada lahir bulan yang telah lewat dan hilal (bulan) telah terlihat maka besok harinya adalah tanggal satu bulan baru, dan seppakat pula apabila di akhir bulan yang berjalan hilal tidak dapat terlihat maka bulan yang sedang berjalan digenapkan jumlah harinya menjadi 30 hari. Tetapi perlu disadsari ketika masuk pada wilayah penafsiran (interpretasi) terhadap “ru’yat” maka umat Islam khususnya di Indonesia memiliki perbedaan pendapat dan seakan terpecah dalam kelompok (jama’ah) sehingga terjadilah perbedaan dalam penentuan awal bulan Ramadhan yang berlainan. Akhirnya fenomena perbedaan antar kelompok umat Islam dalam memulai puasa, Idul Fitri dan Idul Adha bisa terjadi.
Untuk memahami permasalahan tersebut kita seharusnya mengkaji kembali pada sumber ilmunya yaitu ilmu hisab yang telah dikenal dengan ilmu falaq atau ilmu Astronomi Islam. Menurut Dr. Thomas Djamaluddin sebagai pakar Astronomi dan Astrifisika dari lapan Bandung menyatakan bahwa ilmu ini dinamakan dengan “Astronomi ibadah”, sehingga ilmu ini juga dipelajari di sebagaian Pondok Pesantren yang dikenal dengan pembelajaran ilmu falaq (ta’limu ilmu falaq). Bahkan ilmu ini juga dikembangkan dalam Fakultas Syari’ah, demikian juga untuk meningkatkan kompetensi pegawai di lingkungan Kementerian Agama Balai Diklat Keagamaan dan Pusdiklat Tenaga Teknis Keragamaan juga menyelenggarakan Diklat Hisab Ru’yat yang bertujuan untuk menyatukan persepsi tentang penentuan awal bulan Ramadhan dan 1 Syawal.
Apabila kita telah memahami tentang Hisab Ru’yat maka kita akan memahami permasalahan penentuan awal puasa dan 1 Syawal sehingga kita memiliki kewajiban moral untuk melaksanakan penentuan melalui ru’yat atau perhitungan baik secara individu mapun institusional/organisasi.Mengapa demikian karena berdasarkan kaidah usul fiqih :
مَالاَ يَتِمُّ اْلوَجِبُ اِلاَّ بِهِ فَهُوَ واَجِبٌ
“Suatu kewajiban yang tidak akan sempurna kecuali dengan perantara sesuatu hal, maka sesatu hal tersebut hukumnya menjadi wajib”
Berdasakan kaidah ini mempelajari dan mempraktekkan Hisab Ru’yat menjadi kewajiban bagi umat Islam (fardhu kifayah), maksudnya pada tingkatan kecamatan atau kabupaten/kota harus ada orang Islam yang menguasai Hisab Ru’yat baik secara pribadi maupun kelompok atau ormas Islam. Mengapa demikian? Karena Hisab Ru’yat untuk menyempurnakan syarat sahnya ibadah, misalnya waktu imsak dalam puasa, arah kiblat , waktu salat, hari raya Idul fitri dan adha.
Dalam perkembangan ilmu Hisab Ru’yat juga menjadi transformasi ilmu pengetahuan yang diwariskan oleh para ilmuwan muslkim pada abad pertengahan. Dalam sejarang Ilmu Hisab Ru’yat pada awalnya telah ditemukan oleh para ilmuwan muslim kemudian berpengaruh ke Eropa, diantara mereka adalah Abu Musa Al-Khawarizmi (w.847 M) Abu Ma’syar (w.885 M), Ibnu Jabar (w.929 M), Abu Qasim Al-Majriti (w.1007 M)Ali bin Yunus (w.1009 M), Nashiruddin al-Tusi (w.1274 M). Mreka yang telah membuat rumusan table-tabel astronomi tentang tata letak benda-benda langit dan menemukan teropong bintang dengan menggunakan lenca pembesar, tetapi ilmu ini dikuasai bangsa Eropa dan diklaim sebagai kemajuan peradaban bangsa pada waktu mengalami kebangkitan pada abad ke – 17 yang diawali dengan kemunduran umat Islam akibat perang yang berkepanjangan.
B. Ruang lingkup pembahasan Hisab Ru’yat.
1. Arah Qiblat dan bayanga arah qiblat
Pembahasan arah qiblat pada dasarnya adalah menghitung besaran sudut yang diapit oleh garis meridian (bujkur dan lintang) pada suatu tempat yang dihitung muylai dari garis meridian tersebut ke garis lurus yang menghubungkan antara Ka’bah dan tempat di mana masjid/musola/rumah kita berada. Penghitungan arah qiblat ini bisa juga dengan cara menghitung bayangan arah qiblat , yaitu menghitung waktu di mana posisi matahari sedang berada di garis lurus yang menghubungkan tempat tersebut dan ka’bah. Hal ini biasanya tertulis pada kalender yang mencantumkan tentang pelurusan arah qiblat (rashdul qiblat).
2. Waktu-waktu salat
Pembahasan tentang waktu/jadwal salat pada dasarnya adalah menghiitung tenggang waktu antara ketiuka matahari berada di titik kulminasi atas (zenith) dengan waktu ketika matahari berkedudukan pada awal waktu-waktu salat. Misalnya :
a. Waktu zuhur dumulai sesaaat setelah terlepas dari titik kulminasiatas, atau matahari terlepas dari merdian langit.
b. Waktu asar dimulai sejak bayangan suatu benda yang berdiri tegak sama panjangnya dengan benda itu sendiri, atau bila matahari membentuk sudut 45 derajat poada saat matahari sedsang berada tepat di atas (garis lintang) dimana kita berada.
c. Waktu magrib dimulai ketika matahari terbenam yang memiliki ketinggian
-1 derajat.
d. Waktu isak dimulai ketika cahaya senja telah hilang atau ketika posisi matahari berada pada ketinggian -18 derajat.
e. Waktu subuh dimulai ketika muncul bias cahaya dari cahaya matahari (fajar) atau matahari berada pada ketinggian -20 derajat di ufuk timur.
Sedangkan penetapan waktu imsak berdasarkan hadis yang menerangkan batas akhir sahur adalah seukuran lamanya membaca al-Qur’an sebanyak 50 ayat sebelum subuh yang dapat diperkirakan selama 8 menit atau sama dengan 2 derajat dan setelah ditambah dengan ihtiyat 2 menit menjadi 10 menit. Sehingga waktu imsak tiba 10 menit sebelum waktu subuh, atau sama dengan matahari berada pada ketinggian -22 derajat di ufuk timur.
3. Penentuan awal bulan
Dalam pembahasan awal bulan dapat melalui menghitung terjadinya ijtima’ (konjungsi) yaitu pada waktu posisi matahari dan bulan berada pada satu bujur astronomi, bersamaan dengan penghitungan posisi bulan pada waktu matahari terbenam pada hari terjadinya konjungsi. Rumus yang baku dalam menentukan awal bulan ini apabila pada hari terjadinya konjungsi bulan sudah daoat dilihat (ru’yat) maka besok harinya sudah masuk tanggal satu bulan berikutnya. Tetapi apabila hari terjadinya konjungsibulan tidak dapat dilihat, maka besok harinya tanggal 30 pada bulan itu. Kemudian tanggal 1 pada bulan berikutnya baru jatuh pada esok lusa (dua hari kemudian). Di saat inilah terjadinya peluang perbedaan penentuan awal bulan terjadi.
4. Waktu gerhana.
Untuk mengetahui terjadinya gerhana dapat dilakukan melalui menghitung waktu terjadinya kontak antara matahari dan bulan yaitu kapan bulan menutupi matahari dan lepas dari matahari (tidak menutup) pada gerhana matahari. Kemudian kapan bulan mulai masuk pada umbra bayangan bumi serta keluar dari bayangan tersebut pada gerhana bulan. Pada gerhana matahari total dan cincin terdapat empat fase yang dihitung. Fase pertama adalah ketika piringan bulan mulai menyentuh piringan matahari, pada waktu inila terjadinya gerhana matahari dimulai. Fase kedua pada waktu seluruh piringan bulan menutupi piringan matahari. Fase ketiga adalah ketika piringan bulan mulai menyentuh untuk keluar dari piringan matahari. Dan fase keempat adalah ketika seluruh piringan bulan sudah keluar dari piringan matahari, pada fase ini waktu gerhana telah selesai. Demikian pula hal ini terjadi oada gerhana bulan pada waktu bulkan masuk ke dalam bayangan bumi. Sedangkan pada gerhana matahari atau bulan yang dijadikan perhitungan adalah pada waktu awal dan akhirnya.
C. Hisab ru’yat dalam penentuan awal bulan Qamariyah.
Pada zaman Nabi Muhammad SAW Muhammad SAW cara menentukan awal bulan berdasarkan pada hasil penglihatan bulan (ru’yatul hilal) saja. Apabila hilal pada tanggal 29 dapat dilihat maka besok harinya sudah masuk pada bulan berikutnya, tetapi apabila bulan tidak dapat dilihat maka bulan yang sedang berjalan digenapkan hitungannya menjadi 30 hari, dan terjadi hanya sekali. Hal ini berdasarkan hadias Nabi Muhammad SAW sebagai berikut :
قَالَ النَّبِيُ صَلَّى اللهُ عَليْهِ وَسَلَّمَ صُوْمُوْالِرُؤْيَتِهِ وَاَفْطِرُوْالِرُؤْيَتِهِ فَاِنْ غُبِّيَ عَلَيْكُمْ فَاَكْمِلُوْا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلاَثِيْنَ (رواه البخارى)
Artinya: Nabi Muhammad SAW bersabda:”Berpuasalah kamu karena telah melihat hilal, dan berbukalah ka,I karena melihat hilal, apabila hilal tertutup atas kamu maka sempurnakan hitungan bulan Sya’ban 30 hari “(HR.Al-Bukhari).
Pada saat itu Nabi Muhammad SAW belum menggunakan cara perhitungan (hisab) untuk menentukan awal bulan, karena pada waktu itu umat Islam masih tradisional (ummi) dalam pemikirannya dan selalu taat kepada Rasulullah. Keadaan ini berdasarkan hadis Nabi Muhammad SAW sebagai berikut:
عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَليْهِ وَسَلَّمَ اَنَهُ قَالَ اِنَّااُمَّةٌ اُمِّيَةٌ لاَنَكْتُبُ وَلاَ نَحْسُبُ الشَهْرَ هَكَذَاوَهَكَذَا يَعْنِى مَرَّةً تِسْعَةً وَعِشْرِيْنَ وَمَرَّةً ثَلاَثِيْنَ (رواه البخارى)

Artinya: Dari Nabi Muhammad SAW ia berkata: “Kami sungguh umat yang ummi, kami tidak menulis dan tidak menghitung satu bulan itu begini dan begini, yaitu kadang-kadang 29 haridan kadang-kadang 30 hari” (HR. Al-Bukhari)
Setelah Islam berkembang sampai pada abad pertengahan maka telah ditemukan ilmu Falak oleh para ilmuwan muslim untuk melakukan perhitungan (hisab) awal bulan. Kemudian semakin berkembang ilmu hisab tersebut seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka sebagaian umat Islam baik secara individu atau kelompok/ormas Islam dalam penentuan awal bulan menggunakan perhitungan (hisab), dengan menggunakan teknik dan metode dalam hisab ini posisi hilal dapat diyakini keberadaannya melalui pengolahan data bulan, matahari dan letak geografis, bahkan hilal dapat diketahui posisinya pada waktu jauh hari sebelumnya. Penemuan teknik dan metode hisab ini berdampak sering timbulnya perbedaan (ikhtilaf) dalam penentuan awal bulan, sehingga terjadi pro dan kontra hasil rukyat dan hisab di kalangan Ulama dan umat Islam. Tetapi sebagaian yang lain ada yang menggunakan cara ru’yat dan hisab, sebagaimana yang dilakukan oleh Kementerian Agama sejak tahun 1976 membentuk Badan Hisab dan Ru’yat Departemen Aagama yang berupaya menyatukan dan menyamakan perbedaan penentuan awal bulan Ramadhan dan 1 Syawal. Tetapi hasil penentuan awal bulan Ramadhan dan 1 Syawal bisa kebetulan bersama dan juga bisa berbeda.
Langkah menyamakan untuk mengurangi perbedaan ini Pemerintah dalam hal ini Kementerian Agama sangat memerlukan partisipasi aktif dan secara damai (ishlah) dari berbagai pihak terutama para pimpinan oraganisasi Islam seperti NU, Muhammadiyah, Persis, Al-Irsyad, Al-Wasilah, Dewan Dakwah Islam dan lainnya. Demikian juga diharapkan peran aktif masyarakat khususnya para ahli hisab rukyat sangat diperlukan kontribusinya dalam memberikan pencerahan umat Islam agar saling memahami dan toleransi dan tidak terjebak dalam perbedaan sehingga menimbulkan konflik dan perpecahan umat Islam.
D. Perbedaan penentuan awal bulan Qamariyah
Secara garis besar pokok perbedaan dalam penetapan awal dan akhir Ramadhan karena hal-hal sebagai berikut :
1. Perbedaan system dan metode perhitungan, perhitungan awal bulan Qamariyah di Indonesia tumbuh dan perkembang sangat pesat dan menghasilkan berbagai macam system dan metode hisab. Sedangkan system hisab ada tiga kelompok, yaitu :
a. Sistem hisab haqiqi taqribi, perhitungan dilakukan secara pasti namun memilki tingkat presesi yang masih besar Karena menggunakan data astronomi klasik yang belum akurat (masih bersifat taqribi atau perkiraan). Sistem ini biasanya menggunakan rujukan kitab-kitab klasik sebagai referensi, antara lain Sullam al-Nayyirain, Tazkirah al-Ikhwan, Fathu al-Rauf al-Manan, Al-Qawaid al-Falakiyah, Al-Syams wa al-Qamar bi husband, Jadawil al-Falakiyah, Risalah al-Qamarain, Risalah al-Falakiyah, Risalah al-Hisabiyah, Risalah Syams al Hilal dan Hisab qath’i.

b. Sistem hisab haqiqi takhiqqi, yaitu perhitungan dilakukan secara pasti dan memiliki tingkat presesi yang kecil karena menggunakan astronomi yang modern (sudah bersifat tahqiqi atau akurat). Sistem ini memakai rujukan antara lain Al-Mathla’ al-Said, Manahij al-Hamidiyah, al-Khulasah al-Wafiyah, Muntaha Nataij al-Aqwal, Badi’ah al-Mitsal, Hisab haqiqi, Menara Kudus, Nur al-Anwar, Ittifaq Zat al-Bain dan markaz al-Falakiyah.
c. Sistem hisab haqiqi kontemporer, yaitu system menggunakan data dan teknik penghitungan yang jauh lebih akurat karena telah melalui riset yang panjang dengan menggunakan peralatan yang canggih . Rujuan yang dipakai antara lain, New Comb, EW. Brown, Jean Meuus, Al-Manak Nautika, Astronomical Almanac, Ephemeris Hirab Ru’yat, Islamic calander, Mawaqital-Falakiyah, Moon C52, Astri Info, Aserift, MABIMS, BMG, dan Boscha ITB.
2. Perbedaan pedoman penetapan awal bulan atau tanggal 1, dalam penetapan awal bulan terdapat dua pedoman nyang menjadi acuan, yaitu :
a. Berpedoman pada ijtima’ semata, kelompok ini menetapkan awal bulan qamariyah mulai masuk pada saat terjadinya ijtima’ matahari dan bulan. Setiap terjadi ijtima’ maka pada waktu itu bulan telah berganti. Hal ini memakai dasar kaidah :
اِجْتِمَاعُ النَّيْرَيْنِ اِثْبَاتٌ بَيْنَ الشَّهْرَيْنِ
“Pertemuan dua cahaya (matahari dan bulan) adalah penetapan antara dua bulan”
Orang-orang yang memakai ijtima’ ini kemudian terpecah menjadi beberapa kelompok, yaitu : 1) Ijtima’ qablal ghurub, menggunakan waktu terbenamnya matahari. Mereka membuat kreteria bahwa jika terjadi ijtima’ sebelum terbenamnya matahari, maka malam itu sudah dianggap bulan baru, sedangkan bila ijtima’ terjadi setelah terbenamnya matahari maka malam hari itu dan keesokan harinya ditetapkan sebagai hari terakhir dari bulan yang sedang berlangsung. 2) Ijtima’ qablal fajri, kelompok ini berpedoman bahwa bila ijtima’ terjadi sebelum fajar , maka sejak terbit fajar itu sudah masuk pada bulan baru, dan bila ijtima’ terjadi sesudah terbit fajar, maka hari sesudah terbit fajar tersebut termasuk hari terakhir dari bulan yang sedang berlangsung. 3) Ijtima’ finnahari, kelompok ini membuat kreteria bahwa bila ijtima’ terjadi di siang hari, maka siang hari itu sejak terbitnya matahari sudah termasuk bulan baru, tetapi bila ijtima’m terjadi di malam hari , maka awal bulan dimulai pada siang hari berikutnya. 4) Ijtima’ qabla zawal, kelompok ini membuat kreteria bila ijtima’ terjadi sebelum tengah hari (zawal), maka hari itu sudah termasukbulan baru, sedangkan bila ijtima’ terjadi sesudah jawa, maka hari itu masih termasuk bulan baru, sedangkan bila ijtima’ terjadi sesudah zawal maka hari itu masih termasuk bulan yang sedang berlangsung. 5) Ijtima’ fi wasthil laili, kelompok ini menetapkan bila ijtima’ terjadi sebelum tenagh malam, maka sejak tengah malam itu sudah masuk awal bulan, sedangkan bila ijtima’ terjadi sesudah tengah malam, maka malam itu masih termasuk bulan yang sedang berlangsung dan awal bulannya ditetapkan mulai tengah malam berikutnya.
b. Berpedoman pada ijtima’ beserta posisi hilal di atas ufuk, penetapan awal bulan harus mengacu pada terjadinya ijtima’ beserta posisi hilal yang sudah diatas ufuk ketika matahari terbenam. Cara inipun juga terbagai menjadi beberapa kelompok, yaitu 1) Ijtima’ dan ufuk haqiqi, yaitu awal bulan qamariyah dimulai pada saat terbenam matahari setelah terjadi ijtima’ dan pada saat itu hidal sudah di atas ufuk haqiqi (garis horizontal yang melalui titik pusat bumi yang tegak lurus dengan dengan garis vertical yan g melalui peninjau dari titik pusat bumi. 2) Ijtima’ dan ufuk hissi, yaitu awal bulan qamariyah dimulai pada saat terbenam matahari setelah terjadi ijtima’ dan pada saat itu hilal sudah berada di atas ufuk hissi. Sedangkan ufuk hissi adalah garis horizontal dari seorang peninjau yang tegak lurus dengan garis vertikal yang melalui peninjau dari titik pusat bumi. 3) Ijtima’ dan ufuk mar’i yaitu awal bulan dimulai pada saat matahari terbenam setelah terjadinya ijtima’ dan pada saat itu hilal sudah di atas ufuk mar’i. Ufuk mar’i adalah bidang datar dari mata seorang peninjau ke benda yang dilihatnya. Kelompok ini juga disebut dengan Wujudul hilal di atas ufuk mar’i setelah matahari terbenam, dan meskipun wujudul hilal sangat kecil (0 derajat – 2 derajat) di atas ufuk mar’i maka sudah dapat dinyatakan wujud hilal dan dimulai awal bulan. 4) Ijtima’ dan imkanur rukyah yaitu dimulai pada saat matahari terbenam setelah terjadinya ijtima’ dan pada saat itu hilal telah memenuhi syarat untuk memungkinkan dilihat.
3. Perbedaan metode dan keabsahan rukyah
Sebagaian pihak menetapkan bahwa rukyah harus dibarengi dengan hisab agar tepat sasaran rukyah. Maka Rukyah yang tidak sesuai denga hasil hisab akan ditolak karena hasilnya menyimpang. Tetapi sebagaian yang lain mengatakan bahwa rukyah tidak perlu dengan hisab karena rukyah dijadikan sebagai penentu awal bulan. Orang yang merukyah harus memenuhi ketentuan seperti muslim, berakal sehat, balig, merdeka, adil dan bersumpah di hadapan hakim.
4. Perbedaan penetapan wilayah (Mathla’)
Sebagaian pihak berpendapat bahwa penetapan awal bulan hanya berlaku untuk satu wilayah hukum (wilayatul hukmi), sehingga antara wilayah yang satu dengan lainnya bisa berbeda. Sedang pihak lain berpendapat bahwa berlakunya penetapan untuk seluruh manusia, sehingga wilayah yang lain dapat mengikuti yang sama dengan catatan malmnya bersamaan.
5. Perbedaan dalam kewenangan
Kelompok ini sebagaian berpendapat bahwa siapapun berhak menetapkan awal bulan bila telah berhasil melihat bulan ataua mendapat laporan ada orang daerah lain telah melihat hilal. Jadi tidak perlu ditetapkan oleh pemerintak, cukup diserahkah kepada masyarakat berdasarkan keyakinan masing-masing. Tetapi menurut sebagaian besar berpendapat bahwa penetapan awal bulan menjadi kewenangan pemerintah dan harus diikuti meskipun berbeda pendapat. Sebagaimana kaidah usul fiqih :
حُكْمُ اْلحَاكِمِ اِلْزَامٌ وَيَرْفَعُ اْلخِلاَفُ
“Keputusan pemerintah (hakim) adalah wajib diikuti dan menghilangkan perbedaan”

E. Penutup
Sebagain besar umtu Islam tentu menginginkan kebersamaan dalam melaksanakan awal puasa dan akhir puasa Ramadhan, demikian pula Pemerintah menghimbau kepada seluruh umat Islam untuk mentaati hasil sidang isbat berdasarkan Badan Hisab dan Rukyah Kementerian Agama, sehingga tidak ada perbedaan awal dan akhir Ramadhan. Hal ini juga berlaku pada negara-negara lainnya seperti Malaysia,Brunai Darussalam dan negara-negara Islam lainnya. Mengapa di Indonesia tidak bisa disamakan seperti negara lain? Mungkin diperlukan perangkat hukum seperti peraturan pemerintah tentang awal dan akhir Ramadhan, sehingga apabila ada yang melanggar perlu diberi sangsi. Namun pemerintah tetap menghargai terhadap ormas Islam atau jama’ah tertentu yang mengawali dan mengakhiri puasa Ramadhan berdasarkan cara dan keyakinan masing-masing dan saling menghormati untuk mempertahankan persaudaraan sesama umat Islam (ukhuwwah islamiyah).
(Penulis adalah Widyaiswara Madya BDK Semarang)

Daftar Pustaka :

Abdurrahman Al-Juzairi (2000), Kitab Fiqih ‘ala Mazhabil Arba’ah, Cairo: Al-Maktab Al-Saqafi.

Atha’ Mudhar, (2003), Maqalat Hammah fi al-Hiasan wa al-ru’yat al-Hilal, Jakarta: Badan Litbang Depag.

Bakharuddin Jusuf Habibie, (1994), Rukyah Dengan Teknologi: Upaya Mencari Kesamaan Pandangan Tentang Penentuan Awal Ramadhan Dan Syaawal. Jakarta: Gema Insani Press.

H.S. Farid Ruskanda.( 1996), 100 Masalah Hisab & Rukyat: Telaah Syari’ah, Sains, Dan Teknologi, Jakarta: GIP.

Izzuddin Ahmad, (2007), Fiqh Hisab Rukyat. Jakarta: Erlangga.

Muchtar Zarkasi (dkk), (1983), Pedoman Perhitungan Awal Bulan Qamariyah, Jakarta : Peradilan Agama.

Muhyiddin Khazin, (2005), Ilmu Falak dam Teori dan Praktik, Yogjakarta : Buana Pustaka.

Saduddin Djambek, (1976), Hisab Awal Bulan, Jakarta : Tinta Mas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

| Designed oleh: sarx_rockajaya | admin@muijateng.com, RapidShare Search and Internet TV