METODE PENETAPAN AWAL DAN AKHIR RAMADHAN

( Pendalaman Materi Diklat Hidsab-Rukyat Balai Diklat Keagamaan Semarang)
Oleh : Drs.H.Zaenuri, M.Ag

يَااَيُّهَاالَّذِيْنَ امَنُوْاكُتِبَ عَلًَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَاكُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ ﴿البقرة: ﴾
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”. )QS. Al-Baqarah: 183)
Berdasarkan Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 04/MLM/I.0/E/2013 tentang Penetapan hasil Hisab Ramadhan, Syawal dan Zulhijjah 1434 H, bahwa 1 Ramadhan 1434 H jatuh pada hari Selasa Wage, 9 Juli 203 M, 1 Syawal 1434 H jatuh pada hari Kamis Wage 8 Agustus 2013 M dan 1 Zulhijjah 1434 H jatuh pada hari Ahad Pon 6 Oktober 2013 H. Dengan maklumat itu sebagaian umat Islam di Indonesia akan mengalami perbedaan mulai puasa Ramadhan.
Sementara pemerintah dan ormas Islam lainnya masih akan menunggu hasil Sidang Isbat Badan Hisab dan Rukyah Kementerian Agama yang hasilnya kemungkinan besar berbeda mulai puasa Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitrinya. Demikian juga umat Islam yang tergabung dalam kelompok/jama’ah tertentu juga memakai metode yang berbeda sehingga hasil penetapannya juga berbeda, hal ini sudah sering terjadi setiap bulan Ramadhan.
Umat Islam Indonesia sebenarnya semakin berpengalaman dan dewasa dalam mengambil sikap setiap perbedaan terjadi, khususnya perbedaan awal dan akhir Ramadhan. Salah satu hal yang membedakan antara penanggalan Hijriah dengan kalender lainnya adalah peraturan yang digunakan. Peraturan penanggalan hijriah disandarkan pada Al-Qur’an dan Hadis.
Beberapa aturan dasar penanggalan Hijriah adalah 1) Satu tahun terdiri dari 12 bulan. Hal ini didasarkan firman Allah (QS. Attaubah : 36) yang artinya, “Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram”. 2) Awal bulan ditandai dengan hilal. Hal ini didasarkan pada firman Allah (QS. Al-Baqarah : 189) yang artinya, “Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji”. 3) Satu bulan Hijriah itu terdiri dari 29 hari atau 30 hari. Hal ini didasarkan pada beberapa Hadis Nabi yang berkaitan dengan puasa di antaranya, “Sebulan itu adalah sekian dan sekian, kemudian beliau melengkungkan ibu jarinya pada perkataan yang ketiga, maka berpuasalah kamu karena melihat hilal, dan berbukalah (mengakhiri puasa) kamu karena melihat hilal. Jika hilal tertutup oleh awan, maka pastikanlah bilangan hari pada bulan itu lamanya menjadi 30 hari” (HR. Muslim).
Berdasarkan Al-Qur’an dan Hadis tersebut, Ulama telah sepakat bahwa penanggalan Hijriah merupakan sistem penanggalan yang didasarkan pada pergerakan Bulan dalam mengelilingi Bumi (Lunar Calendar) dan awal bulan ditandai dengan hilal. Hal ini berdasarkan pada astronomical phenomena maka penanggalan Hijriah tidak mengenal istilah tahun kabisat dan satu tahunnya terdiri dari 12 bulan yang tidak bergantung pada posisi matahari.
Dalam implementasinya, penanggalan Hijriah sampai sekarang belum mempunyai peraturan yang baku untuk dipergunakan secara internasional, sehingga dalam penetapan awal maupun akhir bulan khusunya penetapan awal dan akhir Ramadhan masih sering terjadi perbedaan.
Cara Penetapan.
Setiap tahun Umat Islam disibukkan dengan masalah “kapan mulai puasa dan Idul Fitri”. Para pengurus ormas-ormas dan lembaga-lembaga Islam menentukan hukum (ijtihad) untuk memastikan mulai puasa dan Idul Fitri. Akibatnya masyarakat mengalami kebingunan dengan berbagai keputusan yang berbeda-beda. Bahkan ada juga masyarakat dikacaukan oleh himbauan untuk memulai puasa dan berhari raya dengan berpedoman pada hasil penetapan dari Arab Saudi.
Pada jaman Nabi Muhammad SAW, para sahabat dan pengikutnnya (tabi’in) tidak pernah terjadi perbedaan mulai puasa Ramadhan,1 Syawal dan 1 Zulhijjah, semua didasarkan dengan melihat hilal dengan mata kepala (ru’yatul hilal bil fi’li) atau menggenapkan bulan Sya’ban dan Ramadhan menjadi 30 hari (istikmal) apabila rukyat tidak berhasil disebabkan karena cuaca mendung atau faktor lainnya.
Tetapi perlu disadari bersama setelah ilmu pengetahuan mengalami kemajuan dan pengertian tentang rukyatul hilal mengalami pergeseran dengan ada cara yang lain, seperti ada yang memakai cara melihat buulan dengan mata kepala dengan alat (ru’yat bil fi’li) atau melihat hilal dengan ilmu pengetahuan (ru’yat bil’ilmi) atau hisab.
Faktor Perbedanya
Sebernarnya perbedaan pendapat dalam Agama Islam terjadi sejak masa Rasulullah, tetapi dapat dicarikan jalan keluar oleh Rasulullah SAW. Setelah Islam didakwahkan oleh para sahabat sampai para Ulama’ sampai sekarang tentu banyak perbedaan baik dalam aspek ibadah maupun muamalah.
Pada masa Rasulullah perbedaan 1 Ramadhan tidak terjadi, karena para sahabat selalu taat kepada Nabi Muhammad SAW dengan metode dasar hasil melihat hilal dengan mata kepala (rukyat bil fi’li).Dalam kenyataannya pada masa Rasulullah hanya Sembilan kali mengalami bulan Ramadhan dengan jumlah 29 hari kecuali hanya sekali yang jumlah harinya 30 hari. Faktor apa yang menyebabkan berbeda antara lain : 1) Perbedaan metode, yaitu metode hisab dan metode hisab. Sedangkan kelompok yang menggunakan rukyat berpendapat bahwa awal dan akhir Ramadhan harus ditetapkan atas dasar melihat hilal dengan mata kepala hasil (rukyat bil fi’li) rukyat bil fi’li sementara golongan yang menggunakan hisab berpendapat bahwa hisablah yang harus digunakan dalam menetapkan awal dan akhir Ramadhan.
Selain itu adanya masalah perbedaan pemahaman terhadap nash-nash al-Quran maupun as-Sunah yang juga menjadi penyebab perbedaan penetapan awal dan akhir Ramadhan. Masih ada faktor lain yang menjadi penyebab perbedaan yaitu
masih adanya perbedaan pemahaman tentang definisi hilal, ada yang mengartikan hilal sebagai Bulan sabit yang pertama bisa dilihat dengan mata telanjang. Ada juga yang mengartikan hilal sebagai Bulan yang sudah melewati konjungsi (ijtima’) dan berada di atas ufuk saat magrib, dan masih adanya perbedaan di antara para ahli hisab terhadap sistem hisab yang digunakan. Pada saat ini terdapat lebih dari 20 sistem dan referensi hisab yang digunakan di Indonesia yang dikelompokkan menjadi tiga, yakni hisab taqribi, hisab tahqiqi, dan hisab kontemporer.
Di kalangan para ahli rukyat sendiri juga ada perbedaan pendapat, antara lain dalam masalah rukyat siapakanh yang dapat diterima, apakah harus melalui sumpah atau tidak dan berapa batas minimal orang yang melihat bulan sehingga rukyat tersebut dapat dijadikan keputusan, dan apakah hasil rukyat harus didukung hasil hisab, sehingga jika bertentangan dengan hasil hisab maka hasil rukyat tidak diterima. Selain itu, para ahli rukyat belum sepakat tentang mathla’, jangkauan berlakunya hasil rukyat, apakah hasil rukyat di suatu Negara dapat dijadikan dasar penetapan awal dan akhir Ramadhan bagi Negara lain.
Dasar hukum para ahli hisab dan ahli ru’yat
a. Ahli hisab dengan menggunakan dalil :
هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ مَا خَلَقَ اللَّهُ ذَلِكَ إِلا بِالْحَقِّ يُفَصِّلُ الآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ ( يونس : ٥)

Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hakزDia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui. (QS. Yunus : 5)
َالشَّمْسُ وَ اْلقَمَرُ بِحُسْبَانٍ
“Matahari beredar menurut perhitungan. (QS. ar-Rahman: 5)
يَسْأَلُوْنَكَ عَنِ اْلأَهِلَةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيْتٌ لِّلنَّاسِ وَاْلحَجِّ( البقرة :)
“Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi badat) haji” (QS. al-Baqarah: 189).
Pada ayat di atas menjelaskan kepada kita, bahwa Allah Ta’ala telah menetapkan manjilah-manjilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan supaya kita mengetahui waktu (bulan) dan tahun sedangkan matahari agar kita mengetahui waktu (hari) dan jam.
Secara explisit dua ayat di atas juga mengandung pelajaran disyariatkannya mempelajari ilmu falak (astronomi) atau ilmu hisab untuk mengetahui waktu-waktu shalat, puasa, haji dan lainnya yang bermanfa’at bagi kaum Muslimin.
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : إنّا أمة أمية لا نكتب ولا نحسب، الشهر هكذا وهكذا يعنى مرة تسعة وعشرون ومرة ثلاثون (رواه البخاري(
“Rasulallah Saw bersabda Kita adalah umat buta huruf, tidak pandai menulis dan tidak pandai berhitung, sebulan itu adalah sekian dan sekian (maksudnya kadang-kadang 29 hari dan kadang-kadang 30 hari” (HR. Al Bukhari)
Dari hadis diatas dapat kita pahami bahwa Rasulallah dan para shahabat tidak mempergunakan hisab sebagai dasar untuk memulai dan mengakhiri puasa, karena pada waktu itu ilmu hisab belum berkembang, orang-orang Arab masih dalam keadaan buta huruf, sehingga cara yang paling mudah dilakukan waktu itu dengan melihat bulan. Namun saat ini ilmu pengetahuan dan teknologi telah berkembang dan maju, untuk mengetahui waktu-waktu dan fenomena luar angkasa baik yang telah terjadi maupun yang akan terjadi dapat diperkirakan secara tepat dan mudah, sehingga dengan didukung peralatan yang canggih, hisablah yang paling akurat untuk menentukan awal dan akhir Ramadhan.
كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يتحفظ من شعبان م لا يتحفظ من غيره ثم يصوم لرؤية رمضان، فإن غُمّ عليه عدّ ثلاثين يوما ثم صامز (رواه أبو داود(
“Rasulallah Saw sangat berhati-hati terhadap bulan Ramadhan, disbanding dengan bulan lainnya, kemudian beliau berpuasa karena melihat hilal Ramadhan, maka bila hilal Ramadhan tidak terlihat karena tertutup oleh awan beliau menghitung lamanya bulan Sya’ban itu 30 hari”.(HR. Abu Dawud)
Hadis di atas dapat kita pahami bahwa pengamatan hilal pada bulan ramadhan dan syawal pada masa Rasulallah dilakukan dengan sangat hati-hati dan dengan upaya yangg lebih keras dibandingkan bulan2 lainnya.
Jika upaya pengamatan hilal saat itu dilakukan dengan upaya terbaik yg tersedia pada masa itu, maka sewajarnyalah hal yg sama (upaya terbaik) juga dilakukan oleh kita2 pada masa sekarang. Dan fasilitas yg tersedia pada masa sekarang adalah teknologi satelit dan telekomunikasi.
Dengan kesemua teknologi yg ada saat ini, maka akan dapat diketahui dengan cukup akurat kapan terjadinya bumi, bulan dan matahari dalam posisi segaris (dan dapat diramalkan untuk tahun2 mendatang), sehingga bagi daerah yg mengalami matahari terbenam setelah waktu tsb, dapat dikatakan telah memasuki bulan baru, walaupun hilal belum dapat terlihat dgn mata telanjang disebabkan silaunya temaram senja dan berbagai efek pembiasan cahayanya.
عن بن عمر رضي الله عنهما قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ثم إنما الشهر تسع وعشرون فلا تصوموا حتى تروه ولا تفطروا حتى تروه فإن غم عليكم فاقدروا له (رواه مسلم)
“Dari Ibnu Umar ra berkata, Rasulallah Saw bersabda “sesungguhnya sebulan itu lamanya 29 hari, maka janganlah kalian berpuasa sehingga melihat hilal, dan janganlah kalian berlebaran sehingga melihat hilal, maka apabila hilal tertutup oleh awan sehingga kalian tidak dapat melihatnya, maka perkirakanlah untuknya”. (HR. Muslim)
Lafazh فاقدروا له Pada hadis di atas memiliki arti maka kira-kirakanlah dengan ilmu hisab atau hisablah dengan hisabul manzilah (hitunglah dengan perjalanan bulan), dengan demikian maksud hadis di atas memberi pengertian bahwa selain dengan rukyat, awal dan akhir Ramadhan dapat ditetapkan dengan dan perkiraan ilmu hisab yakni dengan menghitung peredaran bulan.
b. Ahli ru’yat
c. قال رسول الله صلى الله عليه وسلم صوموا لرؤيته وافطروا لرؤيتة فإن غبي عليكم فاكملوا عدة شعبان ثلاثين (رواه البخاري)
Rasulallah Saw bersabda “Berpuasalah dengan melihat hilal dan berbuka (berhariraya)lah dengan melihatnya pula. Jika (hilal)terhalang (awan) hingga kalian tidak dapat melihatnya, maka genapkanlah bilangan bulan Sya’ban menjadi 30 hari” (HR. al-Bukhari)
d.
عن بن عمر رضي الله عنهما أنَّ رسول الله صلى الله عليه وسلم ذكر رمضان فضرب بيده فقال الشهر هكذا وهكذا ثم عقد إبهامه في الثالثة فصوموا لرؤيته وافطروا لرؤيتة فإن أُغْمي عليكم فاقدروا له ثلاثين (رواه مسلم)
“Dari Ibn Umar ra, sesungguhnya Rasulallah Saw menceritakan Ramadhan, kemudian memukulkan tangannya, kemudian bersabda “Sebulan itu adalah sekian dan sekian, kemudian beliau melengkungkan ibu jarinya pada perkataan yang ketiga, maka berpuasalah kamu karena melihat hilal, dan berbukalah (mengakhiri puasa) kamu karena melihat hilal. Jika hilal tertutup oleh awan, maka pastikanlah bilangan hari pada bulan itu lamanya menjadi 30 hari” (HR. Muslim).
e. عن بن عمر رضي الله عنهما قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ثم إنما الشهر تسع وعشرون فلا تصوموا حتى تروه ولا تفطروا حتى تروه فإن غم عليكم فاقدروا له (رواه مسلم)
“Dari Ibnu Umar ra berkata, Rasulallah Saw bersabda “sesungguhnya sebulan itu lamanya 29 hari, maka janganlah kalian berpuasa sehingga melihat hilal, dan janganlah kalian berlebaran sehingga melihat hilal, maka apabila hilal tertutup oleh awan sehingga kalian tidak dapat melihatnya, maka perkirakanlah untuknya”. (HR. Muslim)
Lafazh رَأى atau رُؤْيَة pada hadis-hadis di atas atau hadist lain yang serupa harus diberi arti melihat dengan mata kepala, tidak boleh diartikan melihat dengan hati atau dengan akal atau dengan hisab, karena pada rangkaian hadis tersebut seterusnya terdapat perkataan فإن غُبي atau فإنْ أغمي atau فإنْ غُمّ yang artinya bila hilal itu tertutup oleh awan atau bila hilal itu tidak dapat terlihat.
Kemudian lafazh فاقدروا له pada hadis di atas harus ditafsirkan pastikanlah jumlah hari bulan itu lamanya 30 hari, tidak dengan tafsiran “kira-kirakanlah dengan ilmu hisab atau hitunglah dengan ilmu hisab, karena pada hadis lain dijelaskan dengan perkataan فاقدروا له ثلاثين dan فاكملوا عدة شعبان ثلاثين sehingga yang dimaksud dengan perkataan فاقدروا له adalah perintah menyempurnakan hitungan bulan sya’ban atau ramadhan menjadi 30 hari jika pada tanggal 29, hilal tidak dapat terlihat oleh mata kepala.
Dengan demikian, bahwa awal atau akhir Ramadhan harus ditetapkan berdasarkan hasil rukyat bil fi’li atau dengan cara istikmal bila hilal tidak dapat dilihat oleh mata kepala, karena syara’ hanya mengajukan dua cara tersebut. Dan penetapan awal atau akhir Ramadhan dengan hisab tidak pernah dilakukan oleh Rasulallah dan para shahabatnya, padahal sebelum Rasullah lahir, di Negeri Arab telah berkembang dan telah terdapat tempat yang dipakai untuk mengajar ilmu hisab. Bahkan menurut fakta sejarah pada tahun 500 SM Phitagoras telah membangun suatu pendidikan khusus dalam ilmu hisab, dan 200 kemudian Bathlimus juga mengembangkan ilmu hisab di lembaga pendidikannya Al-Iskandariyah.
Adapun surat Yunus ayat 5 dan surat Arrahman ayat 5 yang dijadikan dalil oleh ahli hisab tidaklah tepat untuk menghapus sistem rukyat dengan sistem hisab, karena ayat di atas tidak ada sangkut pautnya dengan hal memulai dan mengakhiri puasa. Begitu juga dengan surat al Baqarah ayat 189 bila kita lihat asbabun nuzul ayat ini yang diriwayatkan oleh al-Aufi dari Ibnu Abbas adalah bahwa orang-orang pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengenai bulan sabit, maka turunlah ayat ini. Dimana dengan bulan sabit itu mereka mengetahui waktu puasa dan berbuka, waktu jatuh tempo hutang mereka dan iddah istri mereka, serta waktu menunaikan haji. Namun hadis diatas tidak membicarakan sistem hisab yang harus digunakan untuk mengetahui hilal.
Nasehat
Kita sebagai umat Islam dan menjadi Warga Negara Republik Indonesia mempnyai kewajiban moral dan selalu komitmen mentaati peraturan Allah dari Al-Qur’an, peraturan Nabi Muhammad dari As-Sunnah dan peraturan Pemerintah dari Hasil Sidang Isbat Kementerian Agama dan Badan Hisab dan Rukyah Kementerian Agama RI, bahwa dalam melaksanakan ibadah puasa Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri mengkuti pemerintah RI (Ulil amri minkum). Hal ini ditegaskan oleh Allah dalam firmannya Surat An-Nisak:59

يَااَيُّهَاالَّذِيْنَ امَنُوْا أَطِيْعُوْا اللهَ وَ أَطِيْعُوْاالرَّسُوْلَ وَاُولِى اْلاَمْرِ مِنْكُمْ  فَاِنْ تَنَازَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللهِ وَالرَسُوْلِ اِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِاللهِ واْليَوْمِ اْلاَخِرِ  ذَالِكَ خَيْرٌوَاَحْسَنُ تَاْوِيْلاً ﴿النسأ: ﴾
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya” (QS. An-Nisak: 59)

Selain itu kita seharusnya saling mengormati terhadap umat Islam yang lain yang mempunyai pendapat//ketetapan tentang awal dan akhir Ramadhan yang berbeda beserta perbedaan amaliyahnya, karena semuanya berkeyakinan mohon keridhaan Allah dan kita dapat melaksanakan puasa dan ibadah lainnya di bulan Ramadhan. Sehingga terwujud kehidupan umat beragama yang rukun, damai dan bahagia dunia dan akhirat.
Daftar Pustaka
‘Alauddin Ali ibn Muhammad, Tafsir Khazin, Bairut Libanon: Darul fikri.
Ahmad ibn Ali ibn Hajar al-Asqalany, (1378 H). Fathu al-Baari Syarh Shahih al-Bukhari, Bairut:Daar al-Ma’rifah
Departemen Agama RI, (1993). Al-Quran dan terjemahnya, Bandung: CV Gema Risalah Press
Ensiklopedia Islam, Jakarta: PT Ictiar Baru Van Hoeve,
Muslim ibn al-Hajjaj Abu al-Husain al-Qusyairy al-Naisabury, Shahih Muslim, Bairut :D aaru Ihya’ al-Taratsi al-Araby.
Rukyatul Hilal dan Diktat Masalah Diniyah, Pacitan Jawa Timur:Perguruan Islam Pondok Tremas,
http://www.fisikanet.lipi.go.id/utama.cgi?artikel&1066876366&25, diakses 25 Juni 2013.
http://media.isnet.org/iptek/Etc/IdulAdha1423.htmlhttp://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=271337&kat_id=147, diakses 25 Juni 2013.

(Drs. H. Zaenuri, M.Ag sebagai Widyaiswara Madya Balai Diklat Keagamaan Semarang)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

| Designed oleh: sarx_rockajaya | admin@muijateng.com, RapidShare Search and Internet TV